Entah karena bakat atau sekedar mengikuti tren, banyak penyanyi dangdut yang menampilkan goyangan erotis ditambah dengan balutan pakaian yang tidak semestinya. Seronok dan terkesan buka-bukaan, tanpa memandang tempat manggung banyak anak kecil atau tidak. Berdalih sebagai penghibur, mereka bebas mengekspresikan diri meskipun sudah banyak kasus penolakan dan kecaman terhadap penampilan artis-artis seperti ini.
Tengok saja kasus pencekalan Julia Perez akhir-akhir ini yang berlatarbelakang penampilannya yang tidak disukai sebagaian besar kalangan masyarakat. Memang kenyataan pemerintah tidak melarang tegas penampilan si iklan kondom ini, namun Majelis Ulama pemerintah daerah setempat selalu bersikap tegas, didukung elemen-elemen masyarakat juga organisasi massa yang tidak menghendaki dunia hiburan ternoda aksi-aksi yang menjurus kepada kemaksiatan itu.
Ini terutama berawal dari goyang Inul Daratista pada beberapa tahun lalu yang menghebohkan tanah air. Namun agaknya kasus-kasus seperti ini tidak pernah dijadikan cermin para artis terutama dangdut. H. Rhoma Irama pernah mengatakan, dangdut itu bukan goyang tetapi seni yang harus dijunjung tinggi.
Dewi Persik pun tidak luput dari pantauan MUI maupun tokoh-tokoh masyarakat serta ormas-ormas dan elemen-elemen penentang aksi erotis. Ini harus menjadi pelajaran yang tidak perlu lagi diulangi para artis lainnya. Masyarakat sudah terhibur dengan suara-suara merdu mereka tanpa harus ditambahi goyangan dan penampilan yang merangsang orang untuk berbuat maksiat. Goyangan erotis dan buka-bukaan itu kuno. Mari kita renungkan bersama. (A. Subiyantoro)