Tragedi Pembagian Zakat di Pasuruan, Intelijen Kemana?

Pembagian zakat rutin yang dilakukan H. Syaichon di rumahnya Jl Wahidin Sudirohusodo, Pasuruan, Senin (15/09) berakhir tragis. Keinginannya untuk berderma justru menewaskan 21 orang yang akan menerima zakat. Tragedi ini mendapatkan perhatian luar biasa dari berbagai kalangan, bahkan media-media asing, baik di Asia dan Eropa pun mengeksposnya.

Saya sendiri tersentak begitu mendengar berita itu awalnya dari salah satu stasiun televisi nasional. Yang terpikir langsung bagaimana hal itu bisa terjadi? Mungkin banyak faktor yang menyebabkan tragedi ini. Tapi saya lebih fokus menyoroti kinerja intelijen di wilayah Pasuruan. Sebenarnya peristiwa ini tidak perlu terjadi kalau intelijen baik dari kepolisian maupun dari TNI, atau bahkan dari instansi terkait seperti Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Pasuruan bersikap peka dan antisipatif.

Kegiatan bagi-bagi zakat itu sudah berjalan setiap tahun, yakni setiap tanggal 15 Ramadhan. Tentunya melibatkan banyak orang yang jumlahnya tidak sebatas ratusan, melainkan ribuan. Dalam hal ini intelijen semestinya memiliki insting tajam jika kegiatan itu sangat rawan, baik kelancaran maupun bahaya lainnya seperti berdesak-desakan diantara para penerima zakat.

Aparat di tingkat kampung/desa pun sangat disayangkan tidak mengantisipasi. Antrian dan berkumpulnya ribuan orang itu sudah terlihat sejak usai sahur. Nah, mestinya sudah terpikir dengan jelas bakal terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Seharusnya segera melaporkan kepada aparat keamanan dalam hal ini kepolisian.

Namun di balik musibah sebesar apapun pasti akan ada hikmah. Nah, sekarang nasi sudah menjadi bubur, yang sudah harus kita jadikan pelajaran berharga agar di masa depan tidak akan terjadi lagi peristiwa memilukan di bulan suci seperti ini, baik di Pasuruan ataupun di seluruh wilayah tanah air tercinta ini. Wallohu A’lam. (***)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.