Intervensi Amerika Serikat terhadap Indonesia semakin nyata terlihat. Surat dari Kongres Amerika yang dilayangkan ke Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi bukti nyata.
Inilah yang membuat sekitar 500 massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Surabaya menyerukan protes. Massa yang terdiri dari laki-laki dan perempuan berjalan dari Jl. Imam Bonjol menuju depan Jl. dr. Wahidin, sekitar 10 meter dari Konsulat Jenderal (Konjen) AS, Minggu (10/08).
Menyadari tidak akan bertemu dengan Konjen AS, massa HTI melakukan orasi sambil membawa beberapa poster bertuliskan “Cegah Disintegrasi Tolak Campur Tangan AS di Papua” dan “Hanya Khilafah penjaga Keutuhan Wilayah Terpercaya”.
Dalam orasinya, Ibnu Ali dari DPD HTI Jawa Timur mengatakan negara-negara asing hanya menginginkan kekayaan Indonesia. Negara asing, yakni Amerika dan sekutunya sebenarnya adalah imperialis yang menawarkan kebajikan dan kebaikan yang justru menyengsarakan rakyat Indonesia. “Mereka memecah belah kaum muslimin. Mereka takut jika umat muslim bersatu. Hanya satu jawaban untuk persoalan intervensi AS dengan syariah dan Khilafah,” seru Ibnu yang disambut massa dengan pekikan Allahu Akbar.
Aksi damai ini merupakan lanjutan dari aksi massa HTI di Jakarta sehari sebelumnya. Aksi yang sama juga dilakukan oleh HTI Medan. Pada aksi ini, dibacakan pula oleh Ketua DPD II HTI Surabaya, Fikri A. Zudiar, yakni siaran pers yang menyatakan penolakan secara tegas terhadap intervensi AS di Papua.
Siaran pers itu juga menyatakan adanya dukungan AS terhadap gerakan separatis OPM. Sebagaimana yang diberitakan, SBY menerima surat yang ditandatangani oleh 40 anggota Kongres AS. Intinya, meminta SBY untuk membebaskan Filep Karma dan Yusak Pakage, 2 separatis OPM.
Keduanya terbukti terlibat dalam kasus makar pengibaran bendera Bintang Kejora di Lapangan Trikora, Abepura, Papua, pada 1 Desember 2004. Pada Mei 2005, mereka dijatuhi hukuman 15 dan 10 tahun penjara. Namun, beberapa waktu lalu, justru datang surat dari AS yang menginginkan pembebasan kedua separatis itu. Ini menunjukkan campur tangan AS yang bisa mengancam kesatuan wilayah Indonesia.
Untuk itu, HTI dalam siaran persnya menyerukan kepada Pemerintah untuk menghancurkan gerakan separatis sampai ke akarnya dan menghentikan segala bentuk ketergantungan terutama komitmen kepada AS. Karena hanya akan menguatkan cengkeraman imperialis AS.
Setelah berorasi, massa pun kembali berjalan ke Jl. Imam Bonjol. Sekitar pukul 10.00 wib, massa yang juga terdiri dari anak-anak ini membubarkan diri. (sumber: suarasurabaya.net)