Menyambut tahun baru Imlek 2560 yang jatuh pada 26 Januari 2009, ITC Surabaya menggelar Festival Imlek 2009 pada 3-26 Januari 2009. Festival Imlek dikemas sebagai festival seni dan budaya khas Cina yang merupakan perpaduan lomba, hiburan dan bazar kebutuhan Imlek. Bazar Imlek menawarkan beragam barang dekorasi, makanan/minuman, manisan, permen, alat sembahyang, keramik Cina, HP Cina, pakaian dan lain-lain yang didukung tidak kurang dari 80 stand.
“Ini merupakan hasil sinergi kita di dalam meningkatkan jumlah pengunjung mall. Dengan menyelenggarakan event yang selalu baru dan beda dengan mall-mall lain, kami optimis dapat meningkatkan jumlah pengunjung sehingga secara otomatis transaksi yang terjadi dengan para tenant juga mengalami peningkatan,” demikian penegasan General Manager ITC Mega Grosir Surabaya, Christine N. Tanjungan, di sela-sela acara festival yang berlangsung sangat meriah.
Dijelaskan, sebagai acara pembuka Festival Imlek ITC 2009, diadakan kompetisi barongsai ITC Cup yang baru pertama kali diadakan oleh Persobarin Jawa Timur bekerjasama dengan ITC Surabaya. Kompetisi diadakan selama dua hari 3-4 Januari 2009 yang diikuti 26 tim dari seluruh sasana barongsai se Surabaya. “Hari ini (3/1) diadakan babak penyisihan sedangkan final di adakan keesokan harinya dengan mengambil 15 tim sebagai finalis. Selain mendapatkan trophy, uang tunai dan piagam penghargaan, juara umum akan memperebutkan Piala Bergilir ITC Cup. Rencananya event ini dijadikan agenda tahunan setiap kali menyambut tahun baru Imlek,” jelasnya.
Para peserta kompetisi barongsai akan memperagakan satu kategori yaitu Free Style (tradisional). Setiap tim maksimal beranggotakan 10 orang yang terdiri 1 official, 1 manager dan 8 pemain (1 kepala, 1 ekor, 1 tambur, 4 simbal dan 1 tong). Sedangkan umur peserta tidak ada pembatasan.
Sementara untuk jurinya terdiri dari 7 orang yang merupakan pengurus Persobarin Jatim, masing-masing Tjokro Pontjoharyo, Ming Fei, Isidorus, Sugiono, Yu Liong, Tonny Hermanto dan Tjien Hwa. Adapun kriteria penilaian meliputi: 1) Bentuk, kostum, sopan santun dan peralatan, 2) Judul atau alur cerita, 3) Tingkat kesulitan, 4) Keserasian musik dan barongsai serta 6) Ekspresi. “Sedangkan sistem penilaian itu sendiri memakai sistem penilaian Internasional Lion and Dragon Dance Federation (ILDDF) yaitu sistem yang sudah ditentukan standard internasional.
Hadir pada acara pembukaan diantaranya Ketua Umum Persatuan Seni & Olah Raga Barongsay Indonesia (Persobarin), Dahlan Iskan. Dalam sambutannya, Dahlan menyambut baik acara yang telah digelar ITC. Dan yang lebih membanggakan, Indonesia sudah memiliki 30 juri yang sudah diakui internasional sehingga apabila ada kompetisi di luar negeri, juri-juri Indonesia diminta bantuannya. “Ini berbeda sekali dengan kondisi 5 tahun lalu yang masih minim juri. Sedangkan kepala barongsai, sekarang sudah ada yang beratnya 1,8 kg sehingga anak-anak pun bisa memainkannya, kalau dulu selain harus impor beratnyapun masih 10 kg,” tambah Dahlan. (toro)