Oleh: KABAR GRES | 21 Maret, 2012

Kian Berani Bereksperimen dan Inovatif Bikin Kecap

Melihat dari Dekat UKM Binaan Sampoerna (2-Habis)

Pasuruan, KabarGres.Com – Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang ikut merasakan manfaat program PPK Sampoerna/UKM Center kali ini Ahmad Syaifuddin, SE, warga Dsn. Ngetal, Ds. Karangrejo, Kec. Gempol, Kab. Pasuruan. Lewat bendera usahanya Cahaya Makmur, Ahmad semakin maju dalam mengembangkan bisnis warisan orangtuanya, yakni kecap cap “Tawon”.

Hanya saja, Ahmad memang sudah menguasai teknik produksi kecap yang dirintis orangtuanya. “Manfaat masuk di PPK Sampoerna yang paling penting adalah pengalaman dan pengetahuan dari berbagai seminar dengan pembicara-pembicara yang menurut saya aneh-aneh. Dalam arti mereka bisa memberikan motivasi serta memunculkan ide guna pengembangan usaha,” tutur Ahmad saat awak media ini melihat dari dekat proses produksi kecap di rumahnya.

Disebutkan Ahmad, pelatihan yang telah didapat dari program PPK Sampoerna, seperti motivasi kewirausahaan, pelatihan perijinan (PIRT), pelatihan internet marketing dan pelatihan desain packaging.

“Contoh saja, botol kecap selama ini kan identik dengan botol kaca yang besar. Lewat seminar yang diadakan PPK Sampoerna itulah kami berani mencari ide dan inovasi dalam packaging dengan ukuran dan bentuk berbeda,” timpal alumni Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini.

Dalam hal proses produksi juga begitu, masih kata Ahmad, kalau dulunya hanya memproduksi secara asal-asalan, tetapi setelah mendapatkan pencerahan lewat PPK Sampoerna maka dirinya mengaku menjadi lebih terbuka wawasannya. “Kepercayaan diri dalam memasarkan produk kecap kami semakin lebih berani dan luas,” tukasnya.

Menurut Ahmad, dulu usahanya tidak mengenal dengan perijinan yang diatur pemerintah. “Namun setelah mendapatkan pengetahuan dari PPK Sampoerna, kita lebih berkembang. Kualitas produksipun lebih bagus lagi dengan berbagai upaya penyempurnaan. Bahan rempah-rempah bisa menambah rasa yang kian enak pada kecap produksi kami,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas produksi kecap itulah Ahmad akhirnya menemukan bahan baku yang sangat bagus, seperti gula merah yang banyak dikulak dari wilayah Blitar maupun Lumajang, garam lokal yang dinilainya lebih enak dibandingkan garam impor, juga jenis kedelai sebagai bahan penunjang. “Jadi dari pelatihan dan seminar itulah produksi kami semakin bagus,” timpalnya.

Ditambahkan, melihat perkembangan tingkat kebutuhan pasar akan kecap, Ahmad mengaku telah berencana untuk menciptakan merek-merek kecap yang baru lagi. (toro)

Teks foto: Ahmad saat menunjukkan proses pembuatan kecap produksinya.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: