Oleh: KABAR GRES | 21 Maret, 2012

Produksi Berlipat setelah Masuk Program PPK/UKM Center

Melihat dari Dekat UKM Binaan Sampoerna (1)

Pasuruan, KabarGres.Com – Program PPK Sampoerna/UKM Center terbukti telah meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) baik dari segi produksi, pemasaran maupun masalah perijinan usaha produksi ke instansi terkait. Seperti dirasakan Hadi Prayitno (32), warga Dsn. Genitri RT 07 RW 04 Ds. Gunting, Kec. Sukorejo, Kab. Pasuruan, dengan usaha kripik gadung Srigunting.

“Alhamdulillah usaha kripik gadung saya berkembang setelah mengikuti pelatihan budidaya pengolahan gadung dari program PPUMK (Program Pengembangan Mikro Kecil) Sampoerna,” ujarnya saat media ini bertandang di kediamannya, Selasa (20/3).

Menurut Hadi, banyak yang didapat dengan masuk di PPK Sampoerna/UKM Center. “Seperti berbagai pelatihan budidaya dan pengolahan makanan, bantuan staterkit alat dan bibit gadung juga pelatihan departemen kesehatan (PIRT). Apalagi kami semakin tambah pengalaman ketika mengikuti pameran-pameran yang diadakan Sampoerna dan membantu dalam pengembangan serta pemasaran produk kripik gadung,” terangnya.

Sebagai perbandingan, kalau sebelum masuk PPK Sampoerna/UKM Center harus bersusah payah menghasilkan kripik gadung 1 kwintal per bulan, maka setelah masuk bisa mencapai 3-4 kwintal per bulan. Dengan asumsi 1 kwintal menghasilkan Rp3.500.000 (penghasilan kotor) jadi Rp14.000.000 per bulan.

“Keuntungan lain bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Hingga saat ini kami sudah mempekerjakan 8 orang tetangga dan telah mempunyai mitra kerja sebanyak 5 KK. Para mitra kerja yang terlibat dalam proses produksi, sekaligus sebagai penyuplai bahan baku yaitu gadung dengan cara memberi modal untuk membeli gadung gelondongan dan mengolahnya menjadi barang setengah jadi yang kemudian disetorkan kepada kami,” ujarnya.

Disinggung soal kendala, diungkapkan Hadi, karena di wilayah Gunting terkenal sebagai sentra penghasil gadung maka jika sedang defisit bahan baku maka terpaksa harus mendatangkan dari daerah lain. “Kami akhirnya mendatangkan bahan baku dari wilayah lain seperti Mojokerto, Dampit. Tanaman gadung ini kan bisa dipanen minimal berusia 2 tahun,” tuturnya.

Kalau soal pemasaran, seperti dituturkan Hadi sangat terbantu dengan UKM Center Sampoerna. Sehingga wilayah pemasaran bisa menjangkau Malang, Pasuruan, Surabaya bahkan Bandung.

Dalam upaya menjaga ketersediaan bahan baku, Hadi mengaku sudah menanam gadung dengan sistem tumpang sari dengan tanaman sengon. “Musim panen gadung itu di bulan-bulan Juni, Juli hingga Agustus. Yang perlu diperhatikan petani gadung, ambil saja buahnya yang besar jangan sampai memanen hingga buah yang kecil sehingga bisa tumbuh lagi demi kelangsungan tersedianya bahan baku,” tukasnya.

Saat awak media ini mencicipi hasil produksi kripik gadung Srigunting, terasa beda karena lebih renyah dan gurih. Irisan gadung yang tipis-tipis rata menambah nikmatnya produk UKM ini.

Sementara itu, menurut Comdev Executive, Sri Widowati, yang diproduksi Srigunting ini memang spesialis original. “Sebenarnya dalam pelatihan produksi juga sudah diajarkan bagaimana memodifikasi kripik gadung dengan aneka rasa, misalkan saja rasa keju, rasa pedas, maupun rasa lainnya,” timpalnya. (toro)

Teks foto: Inilah produksi kripik gadung setelah mendapatkan berbagai pelatihan dari PPK Sampoerna.

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: